1. my baby masterpiece has done. sekarang udah bisa santai, tinggal nunggu acc dan daftar sidang, yaa dan revisi juga sih pastinya. hhihi yang penting udah ada masterpiece :D

     


  2. if only you knew that hating and avoiding you was my self defense.
     

  3.  


  4. lover or hater, there’s nothing in between
     


  5. tentang skripsi versi sekian…

    saat orang bilang skripsi itu kaya amalan ga perlu di umbar…

    apa kabar amalan yang bener-bener diumbar.

    kaya nge-twit ahh buka puasa dulu, itu kan amalan yg diumbar 

    atau ahh sholat jumat biar ganteng, itu juga amalan yang diumbar

    atau saat bilang, sudah di mekah, mau lempar jumrah, atau apalah, apakah itu bukan amalan yg di umbar ?

    ada yang bilang skripsi itu ga perlu pamer di umbar-umbar.

    itu juga sama aja kaya lo nge-path lagi makan apa, atau makan dimana, atau lagi jalan-jalan kemana.

    apa itu bukan pamer ?

    yaa jadi menurut gue itu intinya sama aja, emang salah satu fungsi medsos buat pamer kok.

    dan gue ga pernah ngeributin itu (orang yg suka pamer)

    menurut gue itu hak orang yaa mau share ttg apa di medsos dia, ga suka tinggal block atau unfol.

    notes ini bukan balasan atau jawaban atau sindiran buat orang, cuma reminder kalo setiap orang punya kebebasan berekspresi asal ga ganggu orang lain pastinya.

    ciao bella ! ~~

     


  6. EPISTEMOLOGI PEMERKOSA -oleh Reza.A.A wattimena

    Pondok Indah, Jakarta Selatan, entah mengapa, Susan, bukan nama sebenarnya, harus berjumpa dengan 7 pria biadab. Selama 2 hari, Susan ditangkap, diajak ke rumah kosong, lalu diperkosa secara bergiliran. Mereka mengaku telah membayar sejumlah uang, namun itu tentu saja tidak membenarkan tindakan tersebut.

    Bogor Selatan, Kota Bogor, Jawa Barat, Marina, bukan nama sebenarnya, selama 5 tahun harus hidup di dalam tirani ayahnya sendiri. Selama 5 tahun itu, ia dipaksa untuk melayani nafsu seks ayahnya yang tak terkendali. Ia berusaha menolak, namun ancaman akan dibunuh tentu membuatnya takut.

    Sejak 2004-2008, menurut data dari Kepolisian Daerah Bali, ada sekitar 137 anak yang menjadi korban pelecehan seksual. Pelakunya adalah orang lokal ataupun turis asing. Padahal, menurut pemaparan Kepala Unit Perlindungan Perempuan dan Anak Kepolisian Bali, jumlah ini belum sungguh mencerminkan kenyataan sebenarnya.

    Epistemologi Pemerkosa  

    Mengapa orang memperkosa orang lain? Setidaknya, saya melihat ada tiga sebab. Pertama, pelaku tidak melihat korbannya sebagai manusia, melainkan semata sebagai benda atau mesin untuk memuaskan nafsunya. Ini yang saya sebut sebagai epistemologi pemerkosa. Ironisnya, cara pandang ini, yakni melihat manusia semata sebagai benda dan obyek untuk tujuan lain, berakar begitu kuat di dalam dunia pendidikan kita.

    Siswa dan siswi tidak dilihat sebagai pribadi yang unik dan bermartabat, melainkan sebagai benda atau obyek untuk memenuhi kepentingan sekolah akan akreditas atau hibah uang dari pemerintah. Oleh sebab itu, siswa dimasukan ke dalam proses yang panjang dan seragam dalam bentuk kurikulum pendidikan, mirip seperti pabrik mur yang memiliki prosedur yang panjang dan seragam.

    Kedua, pelaku pemerkosa jelas adalah orang yang tidak mampu menata hasrat seksual di dalam dirinya. Hasrat seksual ini meledak, karena ia tidak pernah belajar untuk mengenali dan memahaminya. Ini terjadi, karena seumur hidupnya, ia dibekali oleh ajaran-ajaran moral munafik yang “mengharamkan” hasrat seksual. Karena tidak dipahami dan dikenali, sekali muncul, hasrat itu akan mengarah pada tindakan-tindakan biadab, seperti pemerkosaan maupun bentuk pelecehan seksual lainnya.

    Pendidikan moral dan agama akan menjadi percuma, jika tidak dibarengi dengan pendidikan hasrat yang lebih dalam dan manusiawi. Bahkan, pendidikan moral dan agama yang semata mengharamkan hasrat seksual manusia justru akan menciptakan hasil sebaliknya: karena hasrat ditekan, maka suatu saat, ia akan meledak tak terkendali.

    Ketiga, faktor lingkungan jelas berpengaruh besar. Masyarakat yang menekan hasrat atas nama agama dan moralitas biasanya akan bermuara pada kemunafikan, yang merupakan akar dari segala tindakan biadab. Masyarakat yang mengatur perempuan atas dasar agama dan moralitas justru akan mendorong perilaku-perilaku yang melecehkan martabat perempuan itu sendiri. Paradoks pemerkosaan inilah yang perlu untuk kita cermati lebih jauh.

    Memperkosa Alam

    Rupanya naluri pemerkosaan ini tidak hanya ditujukan kepada manusia, tetapi juga kepada alam. Hutan digunduli untuk mendapatkan uang lebih banyak, sementara alam tidak lagi memiliki area peresapan air. Ruang-ruang hijau digunduli untuk membangun apartemen mewah dan mall-mall besar. Pemerkosaan atas alam inilah yang mengakibatkan bencana banjir yang nyari menenggelamkan ibu kota awal 2013 ini.

    Papua Barat, Wasior, 2010, hutan sudah rusak, karena digunduli. Akibatnya, ketika hujan deras terjadi, banjur pun tak bisa dihindari. Sungai Batang Salai meluap dan menghancurkan lapangan udara Wasior, rumah sakit, perumahan sipil, jembatan, dan gereja. Listrik terputus, dan hampir semua aktivitas sosial berhenti.

    Ibu kota Jakarta pun tak asing dari bencana serupa. Februari 2007, banjir besar melanda Jakarta. Daerah resapan yang dibantai dibarengi dengan sistem pengendalian banjir yang tertimbun sampah membuat banjir tak bisa dielakkan. Penyebab yang sama juga bisa dilihat pada banjir besar yang melanda Jakarta di awal 2013 ini, yakni pembangunan perkantoran, perumahan mewah, dan mall yang membantai ruang terbuka hijau.

    Sebab terdalamnya adalah manusia yang menjadi pemerkosa alam. Epistemologi pemerkosa juga beroperasi disini. Pertama, alam dilihat sebagai sesuatu yang hanya bernilai guna, sehingga bisa dimanipulasi dan dimanfaatkan untuk memuaskan kepentingan manusia. Akibatnya, alam rusak, dan manusia pun menghadapi bencana.

    Kedua, ini juga terjadi, karena kita tidak pernah mendidik hasrat kita sebagai manusia, terutama hasrat untuk menaklukan dan menguasai alam. Pada akhirnya, kita hidup dalam masyarakat yang buta pada kepentingan alam. Perilaku membuang sampah sembarangan juga adalah bentuk pemerkosaan atas alam yang pada akhirnya berujung pula pada musnahnya manusia.

    Mendidik hasrat, yakni hasrat seksual dan hasrat penguasaan, jauh lebih penting daripada sekedar mengulang-ulang perintah moral dan agama, yang akan segera hilang tertiup angin, ketika kesempatan berbuat jahat tampil di depan mata. Tanpa pendidikan hasrat, kita akan menjelma menjadi mahluk pemerkosa, yang siap memperkosa manusia tak berdaya, dan tanpa henti memperkosa alam. Ironisnya, ketika kita menjelma menjadi mahluk pemerkosa, yang sesungguhnya hancur tidak hanya alam dan orang lain, tetapi juga diri kita sendiri.

    http://rumahfilsafat.com/2013/01/19/epistemologi-pemerkosa/

     


  7. dapet PR dari dosbing buat baca dan ngebandingin fenomenologi Hussler dan Heidegger. well here we go again fisalfat ! hello ! i haven’t see you for a while.
    — niestzhe ! (nice)
     

  8. LOL !

    (Source: softmess, via pleatedjeans)

     

  9.  

  10.